Page 55 - Kewarganegaraan
P. 55

demokratisasi telah banyak disalahgunakan oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat
                    untuk bertindak seenaknya sendiri. Tindakan ini kemudian memunculkan adanya gesekan-
                    gesekan antar kelompok dalam masyarakat dan memicu terjadinya konflik atau kerusuhan
                    antar kelompok. Bersamaan dengan itu demonstrasi menentang kebijakan pemerintah juga
                    banyak terjadi, bahkan seringkali demonstrasi itu diikuti oleh tindakan-tindakan anarkhis.
                        Keinginan yang kuat dari pemerintah untuk mewujudkan aspirasi masyarakat, kebijakan
                    pemerintah yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat, dukungan masyarakat
                    terhadap pemerintah yang sah, dan ketaatan warga masyarakat melaksanakan kebijakan
                    pemerintah  adalah  pertanda  adanya  integrasi  dalam arti  vertikal.  Sebaliknya  kebijakan
                    demi kebijakan yang diambil oleh pemerintah yang tidak/kurang sesuai dengan keinginan
                    dan harapan masyarakat  serta penolakan  sebagian besar warga masyarakat  terhadap
                    kebijakan pemerintah menggambarkan kurang adanya integrasi vertikal. Memang tidak
                    ada kebijakan pemerintah yang dapat melayani dan memuaskan seluruh warga masyarakat,
                    tetapi  setidak-tidaknya  kebijakan  pemerintah  hendaknya  dapat  melayani  keinginan  dan
                    harapan sebagian besar warga masyarakat.
                        Jalinan hubungan dan kerja sama di antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam
                    masyarakat, kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai antara
                    kelompok-kelompok masyarakat dengan pembedaan yang ada satu sama lain, merupakan
                    pertanda  adanya  integrasi  dalam  arti  horisontal.  Kita juga tidak  dapat  mengharapkan
                    terwujudnya integrasi horisontal ini dalam arti yang sepenuhnya. Pertentangan atau konflik
                    antar kelompok dengan berbagai latar belakang perbedaan yang ada, tidak pernah tertutup
                    sama sekali kemungkinannya untuk terjadi. Namun yang diharapkan bahwa konflik itu
                    dapat dikelola dan dicarikan solusinya dengan baik, dan terjadi dalam kadar yang tidak
                    terlalu mengganggu upaya pembangunan bagi kesejahteraan masyarakat dan pencapaian
                    tujuan nasional.
                        Pada era global, tantangan itu ditambah oleh adanya tarikan global di mana keberadaan
                    negara-bangsa sering dirasa terlalu sempit untuk mewadahi tuntutan dan kecenderungan
                    global. Dengan demikian keberadaan negara berada dalam dua tarikan sekaligus, yaitu
                    tarikan  dari luar berupa globalisasi  yang cenderung mangabaikan  batas-batas  negara-
                    bangsa, dan tarikan dari dalam  berupa kecenderungan menguatnya  ikatan-ikatan  yang
                    sempit  seperti  ikatan  etnis, kesukuan,  atau  kedaerahan.  Di situlah  nasionalisme  dan
                    keberadaan negara nasional mengalami tantangan yang semakin berat.

                 5.  Pentingnya Integrasi Nasional
                        Myron Weiner dalam Ramlan Surbakti (2010) menyatakan bahwa faktor pemerintah
                    yang  berkeabsahan  (legitimate)  merupakan  hal  penting  bagi  pembentukan  negara-
                    bangsa. Hal ini disebabkan tujuan negara hanya akan dapat dicapai apabila terdapat suatu
                    pemerintah  yang mampu menggerakkan  dan mengarahkan seluruh potensi masyarakat
                    agar mau bersatu dan bekerja bersama.
                        Kemampuan ini tidak hanya dapat dijalankan  melalui kewenangan menggunakan
                    kekuasaan  fisik  yang  sah  tetapi  juga  persetujuan  dan  dukungan  rakyatnya  terhadap

                    pemerintah itu. Jadi, diperlukan hubungan yang ideal antara pemerintah dengan rakyatnya
                    sesuai dengan sistem nilai dan politik yang disepakati. Hal demikian memerlukan integrasi
                    politik.
                        Negara-bangsa  baru, seperti  halnya  Indonesia yang merdeka  pada  tahun  1945,
                    pembangunan integrasi menjadi tugas penting. Ada 2 (dua) hal yang dapat menjelaskan
                    hal ini.  Pertama, dikarenakan pemerintah  kolonial  Belanda  sebelumnya  tidak pernah
                    memikirkan tentang perlunya membangun kesetiaan nasional dan semangat kebangsaan
                    pada rakyat  Indonesia. Yang dilakukan  penjajah  saat itu adalah  membangun  kesetiaan
                    kepada penjajah itu sendiri dan guna kepentingan integrasi kolonial itu sendiri. Jadi, setelah

              52                                                  Buku Ajar Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Pada Kurikulum Pendidikan Tinggi
                                                                                          Pendidikan Kewarganegaraan
   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60