Page 54 - Kewarganegaraan
P. 54

mulai  diberikannya  mata  pelajaran  Pendidikan  Moral  Pancasila  (PMP) di sekolah.
                         Saat ini, melalui kurikulum Merdeka terdapat mata pelajaran  Pendidikan Pancasila.
                         Melalui pelajaran ini, Pancasila sebagai nilai bersama dan sebagai dasar filsafat negara
                         disampaikan kepada generasi muda.
                      d.  Integrasi elit-massa
                         Dinamika integrasi elit-massa ditandai dengan seringnya pemimpin mendekati rakyatnya
                         melalui berbagai kegiatan. Misalnya kunjungan ke daerah, temu kader PKK, peresmian
                         gedung publik dan sebagainya. Kegiatan yang sifatnya mendekatkan elit dan massa
                         akan menguatkan dimensi vertikal integrasi nasional.
                      e.  Integrasi tingkah laku (perilaku integratif).
                         Mewujudkan perilaku  integratif  dilakukan dengan pembentukan  lembaga-lembaga
                         politik  dan  pemerintahan  termasuk  birokrasi.  Dengan  lembaga  dan  birokrasi  yang
                         terbentuk maka orang-orang dapat bekerja secara terintegratif dalam suatu aturan dan
                         pola kerja yang teratur, sistematis, dan bertujuan.
                         Contohnya, pembentukan lembaga-lembaga politik dan birokrasi di Indonesia diawali
                         dengan hasil sidang I PPKI tanggal 18 Agustus 1945 yakni memilih Presiden dan Wakil
                         Presiden.  Sidang PPKI ke-2 tanggal 19 Agustus 1945 memutuskan pembentukan dua
                         belas kementerian dan delapan propinsi di Indonesia.

                           Tantangan integrasi nasional berkaitan dengan masalah integrasi nasional itu sendiri.
                      Menurut Nazaruddin Sjamsuddin (1996) masalah integrasi  nasional  timbul  karena
                      berdirinya suatu negara-bangsa baru. Munculnya dinamika integrasi nasional Indonesia
                      memang sejak kita merdeka, sejak kita menjadi negara baru.  Dalam upaya mewujudkan
                      integrasi nasional Indonesia, tantangan yang dihadapi datang dari dimensi horizontal dan
                      vertikal. Dalam dimensi horizontal, tantangan yang ada berkenaan dengan pembelahan
                      horizontal yang berakar pada perbedaan suku, agama, ras, dan geografi. Sedangkan dalam

                      dimensi vertikal, tantangan yang ada adalah berupa celah perbedaan antara elite dan massa,
                      di mana latar belakang pendidikan kekotaan menyebabkan kaum elite berbeda dari massa
                      yang cenderung berpandangan tradisional.  Masalah yang berkenaan  dengan  dimensi
                      vertikal lebih sering muncul ke permukaan setelah berbaur dengan dimensi horizontal,
                      sehingga hal ini memberikan kesan bahwa dalam kasus Indonesia dimensi horizontal lebih
                      menonjol daripada dimensi vertikalnya.
                           Terkait dengan dimensi horisontal ini, salah satu persoalan yang dialami oleh negara-
                      negara  berkembang  termasuk Indonesia  dalam  mewujudkan  integrasi  nasional  adalah
                      masalah primordialisme  yang masih kuat.  Titik pusat goncangan primordial  biasanya
                      berkisar pada beberapa hal, yaitu masalah hubungan darah (kesukuan), jenis bangsa (ras),
                      bahasa, daerah, agama, dan kebiasaan.
                           Masih besarnya ketimpangan dan ketidakmerataan pembangunan dan hasil-hasil
                      pembangunan dapat menimbulkan berbagai rasa tidak puas dan keputusasaan di masalah
                      SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), gerakan separatisme  dan kedaerahan,
                      demonstrasi dan unjuk rasa. Hal ini bisa berpeluang mengancam integrasi horisontal di
                      Indonesia.
                           Terkait dengan dimensi vertikal, tantangan yang ada adalah kesediaan para pemimpin
                      untuk terus menerus bersedia berhubungan dengan rakyatnya. Pemimpin mau mendengar
                      keluhan rakyat, mau turun kebawah, dan dekat dengan kelompok-kelompok yang merasa
                      dipinggirkan.
                           Tantangan  dari  dimensi  vertikal  dan  horisontal  dalam  integrasi  nasional  Indonesia
                      tersebut semakin tampak setelah memasuki era reformasi tahun 1998. Konflik horizontal
                      maupun  vertikal  sering  terjadi  bersamaan  dengan  melemahnya  otoritas  pemerintahan
                      di  pusat.  Kebebasan  yang  digulirkan  pada  era  reformasi  sebagai  bagian  dari  proses

               Buku Ajar Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Pada Kurikulum Pendidikan Tinggi                 51
               Pendidikan Kewarganegaraan
   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59